Perubahan suhu yang drastis dapat menyebabkan ekspansi termal pada batuan gamping. Batuan selama ribuan tahun stabil, tiba-tiba mengalami tekanan mengakibatkan retakan mikro. Retakan itu dapat merambat hingga ke lapisan pigmen lukisan, menyebabkan pengelupasan yang masif.

Efek kedua adalah jelaga dan asap. Kebakaran hutan menghasilkan asap tebal yang kaya akan partikel karbon. Asap dari api itu, ungkap dia, akan membentuk jelaga di permukaan gambar gua dan akan menutupi lukisan dalam gua. Seperti selimut hitam menutupi detail lukisan.

“Itu dapat membuatnya kabur dan sulit diidentifikasi. Lukisannya juga akan tertutup dengan jelaga itu. Kita sulit melihat bentuk gambarnya seperti apa, dan sulit melihat warna asli dari pigmennya,” paparnya menjelaskan.

Baca Juga  Final Piala Dunia, Kapolresta Tangerang Jagokan Argentina, Warga yang Nobar Diimbau Tertib

Hal mengkhawatirkan adalah fakta upaya konservasi selama ini dilakukan dengan sangat ketat menjadi sia-sia di hadapan kebakaran skala besar. Balai Pelestarian Kebudayaan Sulsel, bahkan telah menerapkan aturan ketat membatasi jumlah pengunjung maksimal lima orang dalam satu gua.

Aturan itu dibuat bukan tanpa alasan, selain untuk mencegah kerusakan fisik, tujuannya mengontrol suhu lokal dan kelembapan di sekitar gua pada situs tersebut. Bahkan suhu tubuh manusia pun dianggap berpengaruh terhadap kerusakan lukisan dalam jangka panjang.

“Jika suhu tubuh manusia saja dianggap berpengaruh terhadap kerusakan lukisan, apalagi kebakaran. Ini bukan hanya persoalan karhutla, tetapi juga perubahan iklim mikro di dalam lingkungan gua,” kata Basran menegaskan.

Baca Juga  DPD PDI-P Banten Gita Swarantika Sukses Selenggarakan Festival Wisata Kuliner Bulan Bung Karno 2026

Sebab, Kawasan Maros-Pangkep bukan sekadar hutan biasa, tetapi galeri seni terbuka tertua di dunia. Pada dinding-dinding gua kapur itu, manusia purba menggoreskan gambar babi rusa dan cap tangan berusia lebih dari 45.000 tahun, mendahului lukisan terkenal di Eropa seperti di Lascaux, Prancis.

Dampak kebakaran di kawasan Taman Nasional itu tidak hanya merusak vegetasi pada erea karst hingga puncaknya, tapi tutur berdampak pada habitat satwa endemik dilindungi maupun keanekaragaman hayati di wilayah setempat.

Kepala Balai Taman Nasional Buntimurung-Bulusaraung Abdul Rajab menyebutkan, luas lahan yag hangus terbakar pada Senin (12/10) mencapai 34,74 haktare hingga meningkat pada Kamis (15/10) seluas 93,43 hektare. Informasi awal kebakaran di Kelurahan Kassi, Kecamatan Balocci, Pangkep, Minggu (11/10) pukul 21.00 WITA.