lensabumi.com – Kelompok Mahasiswa dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang menyediakan pojok literasi untuk tetap menguatkan minat belajar anak di Kampung Landuh, Aceh Tamiang meski sempat dilanda bencana.
Mahasiswa tersebut merupakan bagian dari 5.040 mahasiswa yang berasal dari 36 perguruan tinggi yang berkontribusi dalam upaya pemulihan pascabencana di wilayah Aceh melalui Program Mahasiswa Berdampak.
“Tujuan dari pelaksanaan program ini yaitu untuk memulihkan dampak psikososial pada anak yang terdampak, dimana sebelum adanya program ini anak-anak lebih banyak diam, kehilangan semangat untuk belajar, dan diantaranya belum menjalankan sekolah seperti biasanya. Namun, setelah adanya program ini alhamdulillah keadaan berubah dengan signifikan dimana adik-adik kembali semangat dalam kegiatan belajar dan lebih berekspresi,” kata Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsri, Muhammad Gabriel Valensa, Jumat (27/2).
Gabriel menyebutkan program ini dijalankan empat kali dalam seminggu, berupa pembelajaran umum yang disesuaikan dengan tingkatan kelas, dan kegiatan tambahan lainnya, seperti ice breaking dan berbagi jajanan.
Ia menjelaskan pojok literasi dihadirkan dengan konsep yang sederhana, praktis, dan mudah diterapkan sesuai kondisi lapangan dalam bentuk rak buku bertingkat yang ditempatkan di sudut ruangan, dengan tinggi sekitar 130–150 cm dan lebar 90–100 cm.
Selain rak buku, mahasiswa juga menyediakan alas duduk dan meja kecil yang dapat digunakan untuk membaca bersama.
Koleksi buku yang disediakan pun beragam, mulai dari cerita anak, buku pengetahuan umum, hingga majalah edukatif. Variasi bacaan ini bertujuan memperluas wawasan siswa sekaligus membangun kebiasaan membaca sejak dini.
Tak hanya berbasis konvensional, pojok literasi juga diintegrasikan dengan teknologi digital sederhana. Mahasiswa menyediakan akses bacaan digital melalui barcode yang dapat dipindai menggunakan gawai.
Lebih lanjut, Penanggung Jawab program Pojok Literasi, Veronika Zahra Pirera mengatakan program Pojok Literasi berlangsung selama kurang lebih 26 hari.
Menurutnya, program Pojok Literasi menjadi wadah dalam menciptakan ruang aman bagi anak yang terdampak bencana dan pascabencana, sehingga mereka dapat merasakan belajar dan bermain seperti biasa.
“Pendekatan dengan anak-anak di sini berlangsung secara mengalir dan tidak dibuat-buat. Selain itu, juga mungkin karena kita di sini sering bermain dan berkeliling di area Kampung Landuh, hingga selama di bulan Ramadhan ini kita melaksanakan shalat tarawih secara bersama,” ungkap Veronika.
Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, I Ketut Adnyana menegaskan bahwa Program Mahasiswa Berdampak 2026 merupakan bagian dari transformasi pendidikan tinggi agar semakin kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
“Mahasiswa dan pemerintah akan terus hadir bersama masyarakat. Kehadiran para mahasiswa diharapkan dapat memberikan semangat dan optimisme bagi masyarakat untuk bangkit dari cobaan, serta menumbuhkan keyakinan bahwa kehidupan ke depan akan lebih baik melalui pemanfaatan potensi dan teknologi yang ada di Aceh Tamiang. Ini adalah bentuk nyata pendidikan tinggi yang berdampak,” ucap I Ketut Adnyana.






