Ironi Indonesia, Raja Sawit Dunia Impor Benih dari Afrika

Jumat, 9 Januari 2026 - 06:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Impor bak jadi tradisi. Tak hanya bahan pangan. Benih sawit, tanaman yang Indonesia sebagai produsen utama dunia pun masih impor dengan alasan untuk mendongkrak produktivitas. Sejumlah organisasi masyarakat sipil mengkritik tindakan ini. Mereka menilai, kebijakan seperti ini tampak menjadi jawaban instan terhadap tantangan produktivitas. Bahkan, impor benih sawit ini lebih menyerupai upaya menutup masalah struktural dengan tambalan kebijakan instan—cepat.  Tampak progresif, tetapi rapuh di dasar.

Achmad Surambo, Direktur Eksekutif Sawit Watch  mencurigai, impor benih sawit dari Afrika membawa kepentingan terselubung. Dia menilai kebijakan itu bisa untuk ekspansi perkebunan sawit di Indonesia dengan dalih meningkatkan produktivitas.

Menurut Rambo, sapaan akrabnya, kebijakan impor benih sawit dari Afrika berisiko menjadi langkah awal ekspansi perkebunan. Jika dikaitkan dengan rencana Presiden Prabowo Subianto yang akan membangun kebun sawit di Papua untuk mengejar swasembada energi nasional.

“Jika impor benih sawit dari Afrika benar-benar untuk mendukung upaya intensifikasi, kebijakan itu bisa sedikit di toleransi. Namun, jika kebijakan itu ada kepentingan ekspansi perkebunan sawit.  Itu merupakan langka yang sangat keliru, apalagi dilakukan di Papua,” katanya kepada Mongabay.

Dia bilang, perlu mengkaji mendalam lagi impor benih dari Afrika, terutama terkait tujuannya. Apakah kebijakan ini untuk ekstensifikasi.  Yaitu,  upaya meningkatkan hasil produksi dengan memperluas wilayah produksi, atau intensifikasi (meningkatkan hasil produksi) tanpa menambah luas area tanam.

Baca Juga  BRI Kantor Cabang Tangerang Merdeka Gelar Acara Sponsorship Gathering Bersama Nasabah Inti PT. Golden Piping Indonesia

Sawit Watch tegas menolak keras ekspansi perkebunan sawit skala besar di Papua yang dikaitkan dengan produksi energi. Rencana ini dia nilai berisiko memicu bencana ekologis, konflik agraria, dan krisis pangan.

“Rencana ini sangat berbahaya dan mengancam kelestarian hutan hujan tropis terakhir di Indonesia, serta mengabaikan pelajaran pahit dari krisis lingkungan di Sumatera.”

Ekspansi sawit di Papua tidak memiliki dasar ekologis dan tata ruang yang kuat.

Berdasarkan riset Sawit Watch soal Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (D3TLH), total potensi lahan sawit yang sesuai di Papua hanya 290.837 hektar.

Baca Juga  Jadwal Piala Liga Inggris: Tim-Tim Premier League Saling Berhadapan

“Tetapi saat ini, luas perkebunan sawit eksisting telah mencapai 290.659 hektar, nyaris menyentuh kapasitas ekosistem ideal.”

Ironisnya, 75.308 hektar perkebunan sawit di Papua berada di wilayah sensitif seperti hutan primer, kawasan konservasi, Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBA), dan habitat burung cenderawasih. Pembukaan lahan baru berarti menghancurkan ekosistem penting secara permanen.

Secara nasional, kata Rambo, Total daya dukung lingkungan sawit sekitar 18,15 juta hektar, hampir terlampaui oleh luas lahan tertanam saat ini sekitar 17,3 juta hektar.

Di Sumatera,  misal, luas tutupan sawit (10,70 juta hektar) melampaui nilai batas atas (10,69 juta hektar), dan 5,97 juta hektar berada di wilayah sensitif seperti gambut dan daerah tangkapan air.

Banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Mandailing Natal, dan Pesisir Selatan bukan sekadar anomali cuaca. Analisis Sawit Watch menunjukkan,  320.807 hektar konsesi sawit berada di bentang lanskap yang rawan banjir.

Baca Juga  Ratusan Musisi Dunia Bersatu Boikot Platform Israel, Dukung Palestina

“Konversi hutan menjadi monokultur sawit menghilangkan fungsi ‘spons’ penyerap air, memperparah bencana,” katanya.

Rencana ekspansi 600.000 hektar di Papua juga beriko memicu konflik agraria baru. Data Sawit Watch mencatat 1.126 konflik perkebunan sawit di Indonesia, melibatkan 385 perusahaan dan 131 grup. Masyarakat adat Papua berisiko menjadi korban utama kriminalisasi dan kekerasan.

Secara ekonomi, katanya, ekspansi tanpa moratorium menimbulkan kerugian hingga Rp30,4 triliun pada 2045 akibat membengkaknya biaya sosial, bencana, dan hilangnya jasa lingkungan.

Menurut dia, mandatori 50% biodiesell (B50) pada 2026 juga berisiko menimbulkan konflik antara kebutuhan energi dan pangan, mengancam pasokan minyak goreng dan berpotensi memicu kelangkaan serta kenaikan harga.

Sawit Watch mendesak Presiden Prabowo membatalkan ekspansi sawit di Papua dan target 600.000 hektar, serta memfokuskan kebijakan pada penataan lahan eksisting.

Dia juga minta pemerintah mengkaji ulang mandatori biodiesel maksimal B35 dan menunda B50 untuk mencegah deforestasi serta konflik pangan versus energi.

Berita Terkait

Real Madrid Berpesta Enam Gol Ke Gawang Monaco
Sporting CP Selangkah Lagi Lolos Ke 16 besar Setelah Tekuk PSG 2-1
PWMOI Apresiasi Putusan MK Tutup Jalan Pidana dan Gugatan terhadap Karya Jurnalistik
Polresta Tangerang Gelar Sertijab Kabag, Kasat, dan Kapolsek, Ini Daftarnya
Kebakaran di Pademangan diduga akibat arus pendek listrik
Klasemen Liga Inggris: Arsenal Masih Nyaman Di Posisi Satu
Satu korban pesawat ATR 42-500 dievakuasi dari jurang 200 meter
Senegal Juara Piala Afrika 2025 Setelah Tekuk Maroko 1-0

Berita Terkait

Rabu, 21 Januari 2026 - 10:36 WIB

Real Madrid Berpesta Enam Gol Ke Gawang Monaco

Rabu, 21 Januari 2026 - 10:29 WIB

Sporting CP Selangkah Lagi Lolos Ke 16 besar Setelah Tekuk PSG 2-1

Rabu, 21 Januari 2026 - 01:32 WIB

PWMOI Apresiasi Putusan MK Tutup Jalan Pidana dan Gugatan terhadap Karya Jurnalistik

Selasa, 20 Januari 2026 - 14:38 WIB

Polresta Tangerang Gelar Sertijab Kabag, Kasat, dan Kapolsek, Ini Daftarnya

Senin, 19 Januari 2026 - 18:29 WIB

Klasemen Liga Inggris: Arsenal Masih Nyaman Di Posisi Satu

Berita Terbaru

Oplus_131072

Berita

Real Madrid Berpesta Enam Gol Ke Gawang Monaco

Rabu, 21 Jan 2026 - 10:36 WIB

Advetorial

Jadwal Liga Champions: Inter Milan Akan Menghadapi Arsenal

Selasa, 20 Jan 2026 - 14:04 WIB