Mahasiswa Teriakkan Keadilan Lingkungan di Istana, Dugaan Backing Politik Disorot

Jumat, 19 Desember 2025 - 12:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta,Lensabumi.Com_ Puluhan mahasiswa, masyarakat, dan pemuda yang tergabung dalam Gerakan Pandeglang Bersih kembali menggelar aksi demonstrasi Jilid II di depan Istana Negara Republik Indonesia dan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Jumat (19/12/2025).

Aksi tersebut merupakan bagian dari aksi Jum’atan rutin yang digelar setiap hari Jumat sebagai bentuk keprihatinan dan perlawanan moral atas dugaan pencemaran lingkungan hidup yang diduga dilakukan oleh CV. Gari Setiawan Makmur (CV. GSM) yang kini beralih status menjadi PT GSM, berlokasi di Kecamatan Panimbang–Sobang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Massa aksi yang berasal dari unsur masyarakat Kecamatan Sobang dan Panimbang, mahasiswa, serta pemuda Kabupaten Pandeglang datang ke Ibu Kota untuk menyampaikan aspirasi terkait aktivitas perusahaan yang bergerak di bidang karantina, penggemukan, peternakan, dan pemotongan sapi impor asal Australia. Keberadaan perusahaan tersebut dinilai sangat meresahkan masyarakat, khususnya karena lokasinya berada di kawasan padat penduduk dan berdekatan dengan lingkungan pendidikan, seperti SD, SMP, dan SMK.

Baca Juga  Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025, Ini Jadwalnya

Koordinator Aksi Gerakan Pandeglang Bersih, Entis Sumantri, menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk kekecewaan terhadap pemerintah daerah yang dinilai tidak menunjukkan respons dan langkah nyata atas keluhan masyarakat terkait dugaan pencemaran lingkungan yang berdampak langsung pada masyarakat dan dunia pendidikan.

“Kami sudah berulang kali turun ke jalan dan menempuh berbagai upaya, mulai dari dialog, diskusi, laporan pengaduan, hingga langkah hukum. Namun hingga kini tidak ada keadilan hukum yang kami rasakan. Bahkan kami menduga perusahaan tersebut belum menempuh seluruh perizinan secara sah, namun secara tiba-tiba beralih status menjadi PT,” ungkap Entis yang akrab disapa Tayo.

Lebih lanjut, Tayo menyoroti sikap sejumlah pejabat daerah dan instansi terkait yang dinilai tidak tegas dalam menangani persoalan tersebut, di antaranya DLH, DPUPR, DPMPTSP, DPKP, serta Satpol PP. Ia juga menduga adanya backing politik yang menyebabkan aspirasi masyarakat diabaikan.

Baca Juga  Buron Sejak 2025, Riza Chalid Masuk Red Notice Interpol

“Kami menduga kuat adanya perlindungan dari oknum partai politik, termasuk Partai Gerindra di tingkat Kabupaten Pandeglang dan Provinsi Banten, yang terkesan enggan menerima aspirasi masyarakat,” tegasnya.

Tayo juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap DPRD Kabupaten Pandeglang, khususnya fraksi yang sejak awal dinilai antusias menerima aspirasi, namun seiring waktu justru melemah fungsi kontrolnya terhadap kebijakan pemerintah daerah.

“Kami menduga telah terjadi praktik gratifikasi dan penyalahgunaan kekuasaan yang melukai rasa keadilan rakyat. Fungsi kontrol DPRD terlihat lemah terhadap kebijakan Bupati Pandeglang yang juga merupakan kader Partai Gerindra,” tambahnya.

Dalam tuntutannya, massa aksi meminta Presiden Republik Indonesia dan Ketua Umum DPP Partai Gerindra untuk segera melakukan evaluasi total terhadap kepengurusan Partai Gerindra di Kabupaten Pandeglang dan Provinsi Banten.

Sementara itu, Ahmad S, selaku Koordinator Lapangan Aksi II, dalam orasinya menegaskan bahwa persoalan ini merupakan tanggung jawab bersama seluruh satuan tugas dan penegak peraturan daerah, termasuk Satpol PP sebagai penegak Perda.

Baca Juga  Hari ini, Kualitas Udara Jakarta Terburuk Ketiga Di Dunia

“Satpol PP jangan hanya diam dan menjadi penonton. Harus ada ketegasan dalam menindak pelanggaran yang merugikan masyarakat,” ujarnya.

Ahmad S juga menyerukan agar Presiden Republik Indonesia tidak tinggal diam terhadap dugaan kejahatan lingkungan yang terjadi di daerah, khususnya di Kabupaten Pandeglang.

“Jaga alam, jaga lingkungan. Masyarakat dan dunia pendidikan di Kecamatan Sobang membutuhkan jaminan kesehatan dan lingkungan yang layak agar generasi penerus bangsa tumbuh sehat dan mendapatkan pendidikan yang bermutu,” paparnya.

“Kami juga berharap setop kriminalisasi aktivis lingkungan atas nama kedok pemerintah dan kepentingan rakyat demi peningkatan asli daerah stop intimidasi terhadap masyarakat para orang tua wali dan juga guru-guru yang memperjuangkan pendidikan yang layak,” tegasnya.

“Kami tidak ipil dengan investasi dan investor tetapi berinvestasi harus sesuai dengan regulasi dan aturan perundang-undangan yang ada serta tidak mengesampingkan kepentingan masyarakat sekitar,” tutupnya

 

(Ari)

Berita Terkait

Hector Souto masih sesali kekalahan futsal Indonesia di laga final
Satlantas Polresta Tangerang Petakan Jalan Berlubang, Persiapan Jalur Mudik Lebaran 2026
UNICEF Sebut Pentingnya Integrasi Sekolah layanan Kesehatan Mental
Perjanjian AS-Rusia Berakhir, Trump Kaji Uji Coba Senjata Nuklir
Reses di Desa Cikasungka, H. Wawan Sumarwan Serap Aspirasi Warga: Pembangunan SMK dan Fasilitas Bank Sampah Jadi Prioritas
Dukung Program Ketahanan Pangan, BUMDes Pasir Barat Tanam Jagung Hibrida ‎
FFI jamin Hector Souto jadi pelatih timnas Indonesia hingga 2028
Wamenlu: Indonesia Akan Bahas Solusi Dua Negara pada KTT D-8

Berita Terkait

Rabu, 11 Februari 2026 - 13:55 WIB

Hector Souto masih sesali kekalahan futsal Indonesia di laga final

Selasa, 10 Februari 2026 - 19:02 WIB

Satlantas Polresta Tangerang Petakan Jalan Berlubang, Persiapan Jalur Mudik Lebaran 2026

Selasa, 10 Februari 2026 - 18:32 WIB

UNICEF Sebut Pentingnya Integrasi Sekolah layanan Kesehatan Mental

Selasa, 10 Februari 2026 - 18:23 WIB

Perjanjian AS-Rusia Berakhir, Trump Kaji Uji Coba Senjata Nuklir

Selasa, 10 Februari 2026 - 11:49 WIB

Dukung Program Ketahanan Pangan, BUMDes Pasir Barat Tanam Jagung Hibrida ‎

Berita Terbaru