Merawat Tradisi Suku Mengkanau Bangka Tengah lewat Murok Jerami

Rabu, 10 September 2025 - 07:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lensabumi.com – Asap tipis mengepul dari tumpukan jerami yang dibakar di hamparan sawah Desa Namang, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulaian Bangka Belitung.

Suara lesung bertalu-talu ditumbuk para petani seolah mengiringi kepulan asap, sementara anak-anak sekolah ikut mengayun batang padi, seolah menidurkan bayi.

Kemeriahan itu adalah bagian dari pesta adat Murok Jerami yang kembali digelar pada Selasa (9/9/2025). Tradisi tahunan warisan Suku Mengkanau ini masih bertahan hingga kini, meski komunitasnya sudah menjadi minoritas.

Sejarah mencatat, sekitar 350 tahun lalu, Desa Namang dikenal sebagai Kampung Mengkanau yaitu komunitas Mengkanau yang mendiami pedalaman hutan Pelawan. Mereka hidup dari bertani dan berladang, serta diyakini sebagai bagian dari keturunan masa kejayaan Sriwijaya.

Baca Juga  BAZNAS Kabupaten Tangerang Dampingi Bupati Jumling di Masjid At-Taqwa Cisoka dan Serap Aspirasi Warga

Hidup mereka lekat dengan alam. Hutan menyediakan rotan, kayu, dan obat-obatan, sementara sawah dan ladang memberi padi serta umbi-umbian. Dari pola hidup itulah lahir tradisi Murok Jerami, sebuah ungkapan syukur kepada bumi yang memberi kehidupan.

Kini jejak itu tidak lagi mudah untuk dikenali. Sebagian besar keturunan Mengkanau telah berbaur dengan penduduk lain. Bahasa daerah yang dulu digunakan semakin jarang terdengar, berganti dengan bahasa Melayu Bangka. Namun satu hal yang masih tegak berdiri adalah ritual syukur panen yang setiap tahun digelar di sawah desa.

Murok Jerami dimaknai sebagai ungkapan syukur atas panen. Prosesi dimulai dengan menebar padi, mengayunkannya seperti bayi, lalu berdoa bersama, membakar jerami, dan menumbuk padi di lesung.

Baca Juga  Momentum HUT ke-130 BRI, BRI Unit Anyar Berikan Penghargaan Masa Kerja kepada Kepala Unit

Setiap tahapan sarat makna. Jerami yang dibakar dipercaya sebagai simbol pelepasan beban. Padi yang diayun dianggap sebagai penghormatan, seolah bayi yang dijaga penuh kasih sayang. Sementara suara lesung yang bertalu-talu menjadi lambang kebersamaan: bekerja bersama, makan bersama, dan berbagi hasil panen bersama.

Bagi masyarakat Namang, padi bukan sekadar bahan pangan, tetapi bagian dari sumber kehidupan. Ada keyakinan bahwa memperlakukan padi dengan hormat akan membuat hasil panen lebih baik. Pesan itu diwariskan turun-temurun, sekaligus mengajarkan rasa syukur yang sederhana namun mendalam.

Bupati Bangka Tengah Algafry Rahman menilai Murok Jerami bukan sekadar prosesi adat, melainkan warisan budaya yang sarat makna. Ia memandang nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap alam yang terkandung dalam tradisi ini masih sangat relevan untuk kehidupan masyarakat modern.

Baca Juga  BRI Cabang Hayam Wuruk Jemput Bola Layanan Deposito Pensiunan, Nasabah Terima Bilyet di Rumah

Pelestarian tradisi lokal seperti Murok Jerami, menurut dia, menjadi cara terbaik menjaga identitas masyarakat Bangka Tengah. Pemerintah daerah setempat berkomitmen menjaga agar tradisi Murok Jerami tidak berhenti hanya sebagai tontonan tahunan, tetapi berkembang menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda sekaligus agenda wisata yang mampu menggerakkan ekonomi desa.

Pengakuan Murok Jerami sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) Nasional dianggapnya sebagai momentum untuk memperkuat identitas Bangka Tengah.

Dengan legitimasi itu, tradisi yang lahir dari Suku Mengkanau diyakini bisa tumbuh menjadi ikon budaya daerah, bahkan berpotensi dikenal hingga mancanegara.

Berita Terkait

Albrian SH, Ketum Milenial Selatan Angkat Bicara Munculnya Salah Satu Kutipan Yang Di Duga Ditujukan Ke Zulhas
GMNI DESAK BUPATI TANGERANG TUTUP 126  DIDUGA HANYA KANTONGI IZIN RESTO, TAPI HIBURAN MALAM SUDAH BERJALAN
Gelar Bimtek, MUI Kabupaten Tangerang Harap Khitobah Inovatif serta Moderat dalam Berdakwah 
ALMAST Desak Pemkab Tangerang Segera Terbitkan Regulasi Penataan Kabel Optik yang Semrawut
Harga BBM Nonsubsidi Berpotensi Disesuaikan, Bahlil: Tergantung Minyak Dunia
Jembatan Dibangun, 1.000 Pohon Ditanam: Polresta Tangerang Dorong Konektivitas dan Ketahanan Pangan untuk Masyarakat
Tingkatkan Kualitas Dakwah, MUI Kabupaten Tangerang Gelar Bimtek Khotib Profesional dan Inovatif
GMNI Desak BPN Kabupaten Tangerang Pecat KJSB Gogo Martondi : Jangan Biarkan Dugaan Pungli Berkedok Jasa Profesional Menghisap Rakyat

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 20:59 WIB

Albrian SH, Ketum Milenial Selatan Angkat Bicara Munculnya Salah Satu Kutipan Yang Di Duga Ditujukan Ke Zulhas

Selasa, 21 April 2026 - 19:40 WIB

GMNI DESAK BUPATI TANGERANG TUTUP 126  DIDUGA HANYA KANTONGI IZIN RESTO, TAPI HIBURAN MALAM SUDAH BERJALAN

Selasa, 21 April 2026 - 15:22 WIB

ALMAST Desak Pemkab Tangerang Segera Terbitkan Regulasi Penataan Kabel Optik yang Semrawut

Selasa, 21 April 2026 - 14:43 WIB

Harga BBM Nonsubsidi Berpotensi Disesuaikan, Bahlil: Tergantung Minyak Dunia

Selasa, 21 April 2026 - 13:15 WIB

Jembatan Dibangun, 1.000 Pohon Ditanam: Polresta Tangerang Dorong Konektivitas dan Ketahanan Pangan untuk Masyarakat

Berita Terbaru

Kepala Puskesmas Tanjung, Hero Irawan (tengah), berfoto bersama peserta usai kegiatan penyuluhan Tuberkulosis (TBC) anak dalam rangka peringatan Hari Kartini di Aula Puskesmas Tanjung, Brebes, Selasa (21/4/2026). Foto: doc humas Puskes Tanjung

Daerah

Puskesmas Tanjung Brebes Gelar Penyuluhan TBC Anak

Selasa, 21 Apr 2026 - 17:25 WIB

Petugas Lapas Brebes menandatangani ikrar deklarasi zero handphone, pungutan liar, dan narkoba (halinar) di Aula Dr. Sahardjo Lapas Brebes, Selasa (21/4/2026). Foto: doc humas

Daerah

Lapas Brebes Perkuat Integritas Lewat Deklarasi Zero Halinar

Selasa, 21 Apr 2026 - 16:27 WIB