Gurita bukan hanya hewan yang terkenal dengan kecerdasan dan kemampuan kamuflasenya yang luar biasa. Bagi Indonesia, satwa moluska dari kelas Cephalopoda ini merupakan salah satu produk andalan ekspor.
Permintaan pasar luar negeri tinggi terhadap gurita. Indonesia salah satu eksportir dunia. Gurita Indonesia mengalir ke berbagai negara seperti Jepang, Italia, China, Amerika Serikat. Kondisi ini juga berimplikasi penangkapan di lapangan.
Demi mengejar tangkapan banyak, tak jarang praktik-praktik merusak pun terjadi. Dari gunakan alat tangkap berbahaya maupun ketika proses penangkapan merusak ekosistem laut, seperti terumbu karang dan lain-lain. Kalau ini terus terjadi, tentu membahayakan bagi keberlanjutan juga, ekosistem rusak, gurita pun sulit ditemukan.
Nelayan-nelayan banyak yang mengkhawatirkan itu. Sebagian dari mereka sudah menerapkan praktik-praktik penangkapan dengan alat-alat sederhana dan ramah ekosistem laut maupun lewat praktik buka tutup, yang memberikan jeda untuk berkembang. Cara-cara ini memperlihatkan hasil tangkapan gurita bisa terus terjaga dari laut yang tak rusak.
Berawal dari keresahan
Secara turun temurun, nelayan di Pototano terkenal sebagai spesialis penangkap gurita. Pengetahuannya mereka warisi dari nenek moyang mereka.
“Kami ini memang ahlinya, sejak dahulu,” kata Mahari sembari menyeka keringat.
Awalnya, di Selat Alas, hanya mereka yang menangkap gurita. Sejak permintaan gurita makin meningkat mulai 2018 terutama untuk ekspor, banyak nelayan dari daerah lain masuk ke sana.
“Saat gempa Lombok (2018), permintaan banyak. Pengepul berdatangan,” kata Amirudin yang saat itu juga berpatroli bersama rekan-rekan yang lain.
Terdorong permintaan yang terus meningkat, penangkapan pun kian masif. Begitu juga jumlah nelayan, terus bertambah. Tak jarang, demi memenuhi ambisi pasar, penangkapan oleh nelayan gunakan cara-cara yang tak ramah.
“Bom ikan dan potasium. Kebanyakan kami pakai itu dulu. Kami juga menyelam dan menggunakan linggis untuk mencungkil rumahnya,” cerita Amirudin sembari melempar pancing.
Lambat laun, penggunaan alat tangkap tak ramah dan penangkapan masif tanpa jeda. Hingga para nelayan mulai merasakan hasil tangkapan tak sebanyak dulu. Begitu juga dengan bobot makin turun.
“Kalau dahulu, setiap orang bisa dapat sampai 10 kilogram dalam sehari,” kenang Mahari, mengingat-ingat masa jayanya gurita di Selat Alas.








