lensabumi.com – Para menteri energi dari kelompok G7 akan bertemu secara virtual pada Selasa (10/3) malam untuk membahas kemungkinan melepas cadangan minyak secara terkoordinasi di tengah lonjakan harga minyak, kata Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama.
Rencana itu muncul setelah para menteri keuangan G7 menyatakan “siap” mengambil langkah yang diperlukan usai pertemuan daring pada Senin, termasuk mendukung pasokan energi global lewat pelepasan cadangan.
“Jika kita akan melakukan itu, kita harus melakukannya dengan cara yang paling efektif, dan masih ada pertanyaan tentang kapan, di mana, dan bagaimana mengoordinasikannya secara keseluruhan, termasuk apakah akan membagi (pelepasan) secara bertahap, dan sebagainya,” kata Katayama kepada wartawan, Selasa.
“Saya rasa ke depannya juga akan ada keterlibatan para pemimpin [G7],” katanya.
Harga minyak mentah berjangka naik di atas 119 dolar AS (sekitar Rp2 juta) per barel pada Minggu, level tertinggi sejak Juni 2022, di tengah kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah akan mengganggu pasokan.
Badan Energi Internasional (IEA) mewajibkan negara anggotanya menyimpan cadangan minyak untuk menjaga stabilitas pasokan energi. Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol turut bergabung dalam pembicaraan para menteri keuangan G7 pada Senin.
Menurut IEA, negara-negara anggotanya secara bersama menyimpan lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak darurat publik. Dari jumlah itu, Amerika Serikat dan Jepang menyimpan sekitar 700 juta barel.
Pada 2022, badan tersebut mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak untuk menjaga stabilitas pasar setelah Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina.
G7 atau Group of Seven adalah forum antar-pemerintah yang terdiri dari tujuh ekonomi maju — Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat — ditambah Uni Eropa sebagai anggota non-enumerasi.
Sumber: Kyodo






