Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah dipicu ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menutup Selat Hormuz.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian seputar geopolitik di Timteng (Timur Tengah) menyusul ancaman Trump untuk menutup Selat Hormuz setelah perundingan yang gagal dengan Iran,” ucapnya.

Baca Juga  Akses Jalan Tak Ada, Pembangunan GSG RW 06 Bantar Panjang Disorot Tokoh Masyarakat Tigaraksa

Mengutip Sputnik, Trump menyatakan AS akan segera memulai blokade angkatan laut di Selat Hormuz untuk mencegah Iran melakukan apa yang disebutnya sebagai “pemerasan”.

Trump menambahkan Angkatan Laut AS akan memblokade semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz hingga semua pihak diizinkan masuk dan keluar.

Berdasarkan pernyataan Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Ebrahim Aziz, setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz akan diwajibkan membayar pungutan.

Baca Juga  Bupati Tangerang Apresiasi Rajawali Junior League 2026

Pemerintah Iran merasa harus menetapkan sistem pengelolaan dan pengendalian untuk Selat Hormuz dan Teluk Persia. Karena itu, setiap kapal yang ingin masuk berdasarkan kepentingan nasional Iran harus membayar pungutan.

“Apabila situasi di Timteng tidak membaik maka harga diperkirakan akan terus melambung dan meningkatkan prospek kenaikan suku bunga oleh The Fed,” kata Lukman.

Baca Juga  Keripik Pisang Kepok Khas Desa Pasir Barat Siap Tampil di Tangsel Festival Kuliner Bulan Bung Karno

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp17.050-Rp17.200 per dolar AS.