Brebes, Lensabumi.com – Forum Mitra Gizi (Formagi) Brebes mendorong pengelolaan sampah dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilakukan secara terintegrasi. Upaya itu disampaikan pengurus Formagi dalam audiensi bersama Komisi III DPRD Brebes dan Dinas Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Sampah (DLHPS) Kabupaten Brebes, dan Korwil BGN Kabupaten Brebes, di ruang Komisi III, Kamis, (30/7).
Dalam pertemuan tersebut, Formagi menyampaikan pentingnya evaluasi pengelolaan sampah yang dihasilkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) maupun limbah domestik rumah tangga agar tidak menimbulkan persoalan sampah di Brebes.
Wakil Ketua Formagi Brebes, Untung Surodi, mengatakan audiensi dengan Komisi III DPRD Brebes dan Dinas Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Sampah (DLHPS) digelar untuk membahas tata kelola sampah yang dihasilkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta limbah domestik rumah tangga.
“Kami melakukan audiensi dengan Komisi III DPRD Brebes dan DLHPS untuk membahas tata kelola sampah yang dihasilkan SPPG maupun limbah domestik rumah tangga. Kami ingin memastikan pengelolaan sampah dari program MBG dapat berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan persoalan lingkungan,” kata Wakil Ketua Formagi Brebes, Untung Surodi.
Ketua Komisi III DPRD Brebes, Mafrukhi, mengapresiasi langkah Formagi yang turut memberikan perhatian terhadap dampak lingkungan dari pelaksanaan program MBG.
Menurut dia, program yang selama ini sempat mendapat sorotan justru menunjukkan manfaat lain di masyarakat.
“Saya selaku Ketua Komisi III sangat respect terhadap pertemuan ini. Program dari Bapak Presiden yang selama ini selalu dipandang sebelah mata, ternyata di masyarakat sangat berguna, termasuk dalam proses pengolahan sampahnya,” kata Mafrukhi.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Brebes, Arya Dewa Nugraha, mengatakan saat ini terdapat 226 mitra resmi dengan 203 dapur SPPG yang telah beroperasi di Kabupaten Brebes. Menurut dia, volume sampah yang dihasilkan dari operasional dapur MBG cukup banyak.
“Dari hitungan kami, total sampah yang dihasilkan per dapur dalam sehari sekitar 100 kilogram yang terdiri atas sampah organik dan anorganik,” ujar Arya.
Arya menjelaskan sebagian besar limbah organik berasal dari food loss, seperti cangkang telur dan kulit pisang, serta food waste atau sisa makanan. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan, komposisi limbah menunjukkan sekitar 79 persen berupa food loss dan 21 persen food waste.
“Artinya, sebagian besar menu yang disediakan dikonsumsi oleh penerima manfaat,” katanya.
Menurut Arya, limbah organik tersebut telah dimanfaatkan oleh Formagi melalui budidaya maggot, pertanian, hingga perikanan. Model pengelolaan ini diharapkan dapat menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah terpadu di Kabupaten Brebes.
Sementara itu, Kepala DLHPS Kabupaten Brebes, M. Sodik, mengapresiasi inisiatif Formagi yang telah mengembangkan pengelolaan sampah terpadu secara mandiri.
“Kami mengapresiasi Formagi yang sudah memiliki pengelolaan sampah terpadu secara mandiri. Kami mendukung upaya tersebut, tidak hanya mengelola sampah MBG tetapi juga limbah domestik masyarakat,” kata Sodik.
Ia mengatakan bentuk dukungan pemerintah daerah dapat berupa bantuan sarana dan kebutuhan yang diperlukan untuk mendukung pengelolaan sampah oleh Formagi.






