Mengapa Banyak Konten Membodohi dan Menghasut di Facebook?

Senin, 8 September 2025 - 00:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lensabumi.com – Facebook adalah salah satu media sosial terbesar di dunia, termasuk di Indonesia yang jumlah penggunanya mencapai puluhan juta orang. Sayangnya, alih-alih menjadi ruang sehat untuk bertukar informasi, banyak konten di Facebook justru membodohi, menyesatkan, bahkan menghasut. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari kombinasi faktor teknologi, sosial, psikologis, dan ekonomi.

1. Algoritma yang Lebih Memilih Viral daripada Benar

Facebook menggunakan algoritma untuk menentukan konten apa yang muncul di beranda pengguna. Algoritma ini memprioritaskan konten yang memicu interaksi (like, komen, share), bukan yang paling akurat.

👉 Konten yang memancing emosi—seperti marah, takut, atau benci—biasanya lebih cepat viral daripada berita faktual yang disampaikan dengan tenang.
👉 Inilah sebabnya hoaks dan hasutan lebih sering nongol di timeline ketimbang laporan jurnalistik yang akurat.

2. Rendahnya Literasi Digital Masyarakat

Banyak pengguna media sosial belum terbiasa mengecek sumber informasi. Judul sensasional langsung dipercaya, bahkan tanpa membaca isi berita.

👉 Contoh: berita palsu dengan judul “Awas! Makan Pisang Bisa Sebabkan Kanker” mungkin langsung dibagikan ribuan kali hanya karena orang terkejut, padahal isinya tidak berdasar.

Baca Juga  Mengenal Jenis-Jenis Plastik yang Diklaim Ramah Lingkungan

3. Adanya Aktor yang Sengaja Menyebarkan Hoaks

Hoaks bukan sekadar “salah informasi”, tapi seringkali dibuat dengan sengaja untuk tujuan tertentu:

  • Politik: memecah belah masyarakat, menjatuhkan lawan, atau memobilisasi massa.

  • Ekonomi: menarik klik untuk keuntungan iklan (clickbait).

  • Ideologi: menyebarkan kebencian berbasis agama, etnis, atau kelompok tertentu.

Seringkali hoaks ini disebarkan melalui akun palsu, bot, atau grup yang dikelola secara sistematis.

4. Motif Ekonomi: Klik = Uang

Banyak situs abal-abal sengaja membuat berita bohong atau menyesatkan. Mengapa? Karena semakin banyak orang klik dan share, semakin besar pemasukan iklan mereka.

👉 Jadi, hoaks di Facebook seringkali adalah bisnis yang menguntungkan bagi sebagian orang.

5. Moderasi yang Tidak Sempurna

Facebook memang punya sistem report dan tim moderator. Tetapi dengan miliaran pengguna di seluruh dunia, mustahil mereka bisa menyaring semua konten berbahaya secara cepat.

👉 Akibatnya, banyak konten provokatif sudah viral duluan sebelum akhirnya dihapus.

Baca Juga  Kasus Dana Papua, KPK Panggil Tukang Cukur Langganan Lukas Enembe

6. Psikologi Manusia: Lebih Mudah Percaya yang Emosional

Otak manusia cenderung lebih cepat merespons informasi yang membuat kaget atau marah. Hal ini disebut emotional contagion (penularan emosi).

👉 Orang lebih suka membagikan sesuatu yang membuat emosi, meski belum jelas benar atau salah.
👉 Itulah mengapa ujaran kebencian dan fitnah menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasi atau bantahan.

Dampak Buruk yang Timbul

  1. Masyarakat terpecah belah → muncul polarisasi, saling curiga, bahkan konflik horizontal.

  2. Citra buruk terhadap kelompok tertentu → fitnah berbasis agama, etnis, atau politik menumbuhkan kebencian.

  3. Masyarakat mudah dimanipulasi → misinformasi bisa memengaruhi hasil pemilu, kebijakan publik, bahkan kesehatan masyarakat (contohnya hoaks soal vaksin).

  4. Ruang publik digital jadi toxic → media sosial berubah dari ruang diskusi sehat menjadi arena saling serang.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

  1. Biasakan cek fakta

    • Gunakan situs cek fakta seperti Cekfakta.com, Mafindo, atau Turnbackhoax.

    • Jangan percaya hanya karena ada gambar atau video (bisa editan).

  2. Jangan gampang share

    • Kalau belum jelas benar, lebih baik simpan sendiri.

    • Jadilah filter, bukan penyebar hoaks.

  3. Ikuti media kredibel

    • Pilih sumber berita resmi dan profesional.

    • Jangan hanya percaya grup WhatsApp atau postingan akun anonim.

  4. Laporkan konten berbahaya

    • Gunakan fitur “Report” agar Facebook bisa menindak lebih cepat.

  5. Tingkatkan literasi digital

    • Belajar cara mengenali hoaks.

    • Ajak keluarga dan teman untuk lebih kritis saat menerima informasi.

Baca Juga  19 Tahun Pertagas: Energi dan Kepedulian Mengalir Bersama Rangkaian Sosial

Kesimpulan

Banyaknya konten bodoh dan hasutan di Facebook bukan kebetulan. Itu hasil kombinasi dari algoritma yang lebih mementingkan viralitas, rendahnya literasi digital, adanya aktor penyebar hoaks, motif ekonomi, serta kelemahan moderasi. Ditambah lagi, psikologi manusia membuat kita lebih mudah terjebak pada konten emosional.

Namun, kita tidak harus pasrah. Dengan kritis, bijak, dan tidak mudah percaya, kita bisa jadi benteng terakhir agar media sosial tidak lagi jadi tempat yang membodohi, melainkan ruang untuk saling berbagi pengetahuan yang sehat.

Berita Terkait

DPD LSM GEMPUR Banten Gelar Buka Puasa Bersama dan Santunan Anak Yatim
Polsek Tigaraksa Ikuti Zoom Meeting Bersama Kapolri dalam Rangka Penanaman Jagung Serentak Kuartal I Tahun 2026
China dikabarkan mulai dukung Iran dalam konflik dengan AS-Israel
Mendagri-Mensos salurkan bansos Rp878 miliar ke daerah bencana
Peduli Sesama, KWRI Kabupaten Tangerang Bagi-bagi Takjil di Solear ‎
Terungkap Kronologis dan Dugaan Motif Pembunuhan Suami di Tigaraksa
Minggu Ketiga, SMSI Tangsel Bagikan Seratus Paket Takjil Untuk Ojol dan Pengguna Jalan Depan Balaikota Tangsel
Bidkum Polda Banten Sosialisasikan Pemberlakuan KUHP Nasional

Berita Terkait

Minggu, 8 Maret 2026 - 12:26 WIB

DPD LSM GEMPUR Banten Gelar Buka Puasa Bersama dan Santunan Anak Yatim

Sabtu, 7 Maret 2026 - 20:07 WIB

Polsek Tigaraksa Ikuti Zoom Meeting Bersama Kapolri dalam Rangka Penanaman Jagung Serentak Kuartal I Tahun 2026

Sabtu, 7 Maret 2026 - 18:01 WIB

China dikabarkan mulai dukung Iran dalam konflik dengan AS-Israel

Sabtu, 7 Maret 2026 - 17:58 WIB

Mendagri-Mensos salurkan bansos Rp878 miliar ke daerah bencana

Sabtu, 7 Maret 2026 - 17:24 WIB

Terungkap Kronologis dan Dugaan Motif Pembunuhan Suami di Tigaraksa

Berita Terbaru