Lensabumi.com – Facebook adalah salah satu media sosial terbesar di dunia, termasuk di Indonesia yang jumlah penggunanya mencapai puluhan juta orang. Sayangnya, alih-alih menjadi ruang sehat untuk bertukar informasi, banyak konten di Facebook justru membodohi, menyesatkan, bahkan menghasut. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari kombinasi faktor teknologi, sosial, psikologis, dan ekonomi.
1. Algoritma yang Lebih Memilih Viral daripada Benar
Facebook menggunakan algoritma untuk menentukan konten apa yang muncul di beranda pengguna. Algoritma ini memprioritaskan konten yang memicu interaksi (like, komen, share), bukan yang paling akurat.
👉 Konten yang memancing emosi—seperti marah, takut, atau benci—biasanya lebih cepat viral daripada berita faktual yang disampaikan dengan tenang.
👉 Inilah sebabnya hoaks dan hasutan lebih sering nongol di timeline ketimbang laporan jurnalistik yang akurat.
2. Rendahnya Literasi Digital Masyarakat
Banyak pengguna media sosial belum terbiasa mengecek sumber informasi. Judul sensasional langsung dipercaya, bahkan tanpa membaca isi berita.
👉 Contoh: berita palsu dengan judul “Awas! Makan Pisang Bisa Sebabkan Kanker” mungkin langsung dibagikan ribuan kali hanya karena orang terkejut, padahal isinya tidak berdasar.
3. Adanya Aktor yang Sengaja Menyebarkan Hoaks
Hoaks bukan sekadar “salah informasi”, tapi seringkali dibuat dengan sengaja untuk tujuan tertentu:
-
Politik: memecah belah masyarakat, menjatuhkan lawan, atau memobilisasi massa.
-
Ekonomi: menarik klik untuk keuntungan iklan (clickbait).
-
Ideologi: menyebarkan kebencian berbasis agama, etnis, atau kelompok tertentu.
Seringkali hoaks ini disebarkan melalui akun palsu, bot, atau grup yang dikelola secara sistematis.
4. Motif Ekonomi: Klik = Uang
Banyak situs abal-abal sengaja membuat berita bohong atau menyesatkan. Mengapa? Karena semakin banyak orang klik dan share, semakin besar pemasukan iklan mereka.
👉 Jadi, hoaks di Facebook seringkali adalah bisnis yang menguntungkan bagi sebagian orang.
5. Moderasi yang Tidak Sempurna
Facebook memang punya sistem report dan tim moderator. Tetapi dengan miliaran pengguna di seluruh dunia, mustahil mereka bisa menyaring semua konten berbahaya secara cepat.
👉 Akibatnya, banyak konten provokatif sudah viral duluan sebelum akhirnya dihapus.
6. Psikologi Manusia: Lebih Mudah Percaya yang Emosional
Otak manusia cenderung lebih cepat merespons informasi yang membuat kaget atau marah. Hal ini disebut emotional contagion (penularan emosi).
👉 Orang lebih suka membagikan sesuatu yang membuat emosi, meski belum jelas benar atau salah.
👉 Itulah mengapa ujaran kebencian dan fitnah menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasi atau bantahan.
Dampak Buruk yang Timbul
-
Masyarakat terpecah belah → muncul polarisasi, saling curiga, bahkan konflik horizontal.
-
Citra buruk terhadap kelompok tertentu → fitnah berbasis agama, etnis, atau politik menumbuhkan kebencian.
-
Masyarakat mudah dimanipulasi → misinformasi bisa memengaruhi hasil pemilu, kebijakan publik, bahkan kesehatan masyarakat (contohnya hoaks soal vaksin).
-
Ruang publik digital jadi toxic → media sosial berubah dari ruang diskusi sehat menjadi arena saling serang.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
-
Biasakan cek fakta
-
Gunakan situs cek fakta seperti Cekfakta.com, Mafindo, atau Turnbackhoax.
-
Jangan percaya hanya karena ada gambar atau video (bisa editan).
-
-
Jangan gampang share
-
Kalau belum jelas benar, lebih baik simpan sendiri.
-
Jadilah filter, bukan penyebar hoaks.
-
-
Ikuti media kredibel
-
Pilih sumber berita resmi dan profesional.
-
Jangan hanya percaya grup WhatsApp atau postingan akun anonim.
-
-
Laporkan konten berbahaya
-
Gunakan fitur “Report” agar Facebook bisa menindak lebih cepat.
-
-
Tingkatkan literasi digital
-
Belajar cara mengenali hoaks.
-
Ajak keluarga dan teman untuk lebih kritis saat menerima informasi.
-
Kesimpulan
Banyaknya konten bodoh dan hasutan di Facebook bukan kebetulan. Itu hasil kombinasi dari algoritma yang lebih mementingkan viralitas, rendahnya literasi digital, adanya aktor penyebar hoaks, motif ekonomi, serta kelemahan moderasi. Ditambah lagi, psikologi manusia membuat kita lebih mudah terjebak pada konten emosional.
Namun, kita tidak harus pasrah. Dengan kritis, bijak, dan tidak mudah percaya, kita bisa jadi benteng terakhir agar media sosial tidak lagi jadi tempat yang membodohi, melainkan ruang untuk saling berbagi pengetahuan yang sehat.








