lensabumi.com – Presiden AS Donald Trump tengah mengkaji perluasan armada nuklir Amerika Serikat dan uji coba senjata nuklir di bawah tanah setelah perjanjian pengendalian dengan Rusia berakhir, dilansir dari laman The New York Times, Selasa (10/2).
Mengutip sejumlah pejabat senior AS, laporan itu menyebutkan bahwa AS tengah meninjau beberapa opsi untuk menempatkan senjata nuklir tambahan dan mempersiapkan kemungkinan dimulainya kembali uji coba nuklir.
Langkah tersebut menunjukkan adanya perubahan yang signifikan dalam kebijakan AS yang selama puluhan tahun membatasi dan mengurangi jumlah hulu ledak nuklir yang disiagakan.
Pada 5 Februari, perjanjian New START antara AS dan Rusia resmi berakhir. Kesepakatan itu membatasi jumlah hulu ledak strategis yang boleh dikerahkan kedua negara, maksimal 1.550 unit. Trump menolak perpanjangan informal yang diusulkan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Pada hari yang sama, Trump mengatakan bahwa AS seharusnya mengupayakan perjanjian baru yang “lebih baik dan modern” daripada memperpanjang New START dengan Rusia.
Wakil Menteri Luar Negeri AS Thomas DiNanno, yang membidangi pengendalian senjata dan keamanan internasional, mengatakan dalam forum perlucutan senjata di Jenewa bahwa New START telah memberlakukan “pembatasan sepihak” terhadap AS dan menegaskan bahwa AS kini bebas memperkuat kemampuan nuklirnya.
Opsi lain yang sedang dipertimbangkan Trump adalah memaksimalkan kapasitas nuklir yang ada dan mengaktifkan kembali hulu ledak nuklir cadangan yang selama ini disimpan.
Salah satu langkah yang mungkin diambil adalah mengaktifkan kembali tabung peluncur rudal di kapal selam kelas Ohio milik Angkatan Laut AS yang sebelumnya dibatasi oleh perjanjian. Langkah itu memungkinkan AS menyiagakan rudal balistik kapal selam.
Beberapa pakar menilai kebijakan itu bertujuan menekan Rusia dan China agar bersedia bernegosiasi dalam perjanjian baru untuk pengendalian senjata. Pakar lain memperingatkan langkah AS itu bisa memicu perlombaan persenjataan yang lebih luas.
Trump telah menyerukan dimulainya kembali uji coba nuklir yang disebutnya “setara” dengan yang dilakukan Rusia dan China. DiNanno bahkan menduga kedua negara itu telah melakukan uji coba nuklir berskala kecil yang sulit terdeteksi.
Sumber: Anadolu








